Langsung ke konten utama

SALING MAAF SAAT PANDEMI : UNTUK IDUL FITRI


Selama saya tinggal di jawa banyak sekali hal2 kefanatikan terhadap keyakinan yang mengajarkan saya dalam konteks saling membenci. Saya juga pernah kok benci agama islam dan petinggi2 agama yang mendogmakan suatu ajaran, sy membenci cara mendogmakan suatu ajaran sehingga kita dijadikan bibit2 yang saling membenci satu sama lain. Saudara/i saya yang beragama islam sama juga seperti itu membenci agama kristen.
Saya berada dalam kondisi mayoritas selama ini, sehingga saya memahami keadaan lingkungan yang mengalami khaos (kekacauan). Kata TOLERANSI yang saya pelajari selama ini ternyata bukanlah solusi absolut untuk tidak saling membenci dalam beragama, justru kata TOLERANSI yang diucapkan selama ini adalah kata2 palsu atau bersifat sementara untuk saling menghargai dan setelah itu akan tidak berlaku lagi saat tidak terjadi khaos. Seolah kata TOLERANSI ini adalah kata yang memiliki musim untuk diucapkan atau saat2 tertentu saja untuk diucapkan sebagai pembuktian bahwa realitanya ada unsur kebencian didalamnya.

Cara mengetahui orang yang fanatik agama adalah : marah ketika agamanya dibicarakan oleh agama lain, marah ketika tuhannya di ganggu oleh agama lain. Sensitif dengan hal2 yang menyinggung perasaan saat konteks ketuhanan dibicarakan atau dipertanyakan.
Maka dari itu saya belajar utk tidak marah atau nyinyirin balik jika ada yang mengganggu hakikat tuhan saya dan agama saya, karena yesus tetaplah yesus yang saya ketahui mau namanya dibakar, patungnya di bakar rumahnya di bakar nilainya dan hakikatnya gak berkurang sama skali. Begitupun juga dengan agama muthlak dan tetap akan menjadi agama.

Bagaimana cara supaya saya tidak membenci agama lain?
Semua orang pasti memiliki caranya masing2, cara saya ini adalah sifatnya sementara sesuai keadaan dan kondisi dilingkungan. Setelah saya banyak membaca lingkungan, sy berhenti mempelajari agama saya supaya nihil (tidak ada) lagi unsur saling membedakan. Bahwa agama saya paling benar, agama saya tidak seperti itu, akhirnya saya menihilkan perbedaan itu dgn cara berhenti mempelajari agama saya tapi mempelajari semua agama dalam konteks keilmuan.

Saat ini saya menjadi agnostik (begitulah saya memberi gelar diri) karena saya menuhankan tuhan yang satu dan absolut adalah diri saya sendiri karena tuhan hidup dalam diri saya, jika saya mati tentu tuhan juga akan mati.

Tujuan kita beragama dan mempelajari agama kita masing2 adalah untuk membawa perdamaian dalam kehidupan di dunia supaya mengurangi khaos dalam kehidupan sosial. Saya berhenti fanatik terhadap agama saya dan tuhan saya, saya lebih suka mempelajari secara horizontal/urusan dunia karena sosial life-nya dapat bangat. Berbeda dengan yang mempelajari secara vertikal antara dia dengan tuhannya tpi horizontalnya malah semakin khaos. Disini saya tidak mengajarkan/mengajak untuk berhenti pelajari agama, tapi ini sekedar sharing.
Unsur kebencian antar agama sedikit berkurang dalam diri saya karena Cara ini manjur bagi saya. bisa saja orang lain tidak setuju tpi terbukti ini loh cara saya mencapainya. Makanya saya bilang, setiap orang punya cara masing2.

Saya pernah kok saat keluar kota bersama teman, ngantar dan temani teman yang mampir solat sebentar di mushola/masjid pinggir jalan. Saat kompetisi model dan Pageant di mall2 atau di hotel sering juga kok, sy nunggu mereka di luar mushola. Pernah juga main ke kos teman yg beragama islam, dan ketika dia sholat saya cuma liat, cara mereka beribadah. Tapi, ada hal2 kecil yang saya dapatkan bahwa ow ternyata begini dan ternyata begitu mulai dari kiblat itu apa, 5 waktu itu apa, dan masih byk lagi.

Inti dari tulisan ini ucapan untuk hari raya idul fitri, MOHON MAAF  bagi saudara/i yang beragama islam dan untuk kita semua sebangsa dan setanah air. Saya tidak menunggu hari raya idul fitri tiba untuk mengucapkan permohonan MAAF karena mati kita tidak pernah tau. 
Kesalahan dan kekhilafan maupun perbuatan sengaja dan tidak sengaja yang kurang pantas dan membuat sakit hati, dalam tulisan ini maupun tulisan sebelumnya dalam kehidupan nyata yang selama ini saya jalani di kehidupan sehari2, dan APAPUN itu perilaku maupun perbuatan, lisan maupun Tulisan, perasaan maupun pikiran semuanya kita bersama2 menghapusnya dan menguburnya dalam satu kata MAAF.

Sebelum ramadhan pergi👈
Sebelum idul fitri datang👉
Selamat menikmati hari2 terkhir ramadhan, semoga kita semua akan dipertemukan kembali dengan ramadhan tahun2 berikutnya, AMIN.
Mohon maaf lahir dan batin.
Mari saling memaafkan🙏🙏🙏
👏peace👏

"Tulisan ini dibuat tanggal 23 Mei 2020 dan di upload tanggal 24 Mei 2020"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REFLEKSI : MUSUH KITA BUKAN COVID-19

Kenapa saya anjurkan kalian selama ini supaya percaya media freelance? Media freelance artinya orang-orang yang memberi informasi kepada khalayak publik (seperti saya contohnya) yang tidak terikat pada pihak apapun atau siapapun. Karena mereka lebih transparan memberi informasi sesuai analisa mereka terhadap fakta lapangan, adapun bila ada kesalahan dalam analisa mereka, itu tergantung dari penerima informasi yang menganalisa lagi supaya analisa diatas analisa akan menghasilkan sifat skeptis seseorang atau sifat meragukan kebenaran. Dengan sifat skeptis tersebut akan menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih dalam sehingga dia terus menggali informasi yang beredar. Seperti itu yang saya maksudkan selama ini, artinya bila teman-teman membaca atau mendapat informasi terbaru telusuri realnya jangan langsung telan mentah. Media-media nasional dan regional/lokal masih terikat sama kepentingan politik dan pencitraannya terlalu banyak karena mereka lebih menjaga elektabilitas instansi tempat mer...

POLIGAMI DEMI SELANGKANGAN

sy membaca buku "DIBALIK SEJARAH POLIGAMI RASULULLAH" karya Achmad Sunarto. Tujuan tulisan ini bukan utk mereview bukunya tpi sy membahas hasil analisis dri konteks poligami nya. Isi dri tiap paragraf cukup menarik,  Tpi sy tidak lansung menelan mentah bgitu sj. trnyata sistem Poligami hadir seolah2 membawa kembali budaya bangsa primitif yg kontroversial di manusia modern saat ini. Byk gerakan islam sendiri yg mengkritik sistem poligami, dan bangsa barat juga byk yg mengkritik demikian. dan isi buku ini mayoritas membenarkan sistem poligami, dan sy pun kurang menyetujui sistem poligami ini. Byk paragraf yg memberi pengertian bahwa satu2 nya cara mengatasi perselingkuhan, perzinahan, kasus2 seksual yg membudaya, masalah dlm rumah tangga, dan mengurangi perceraian yaitu melalui poligami. Jika sy analisis beberapa proposisi diatas, sebenarnya ini salah satu cara mengeksploitasi atau menguasai tubuh perempuan karena budaya patriarki msih benar2 dibeberkan tpi mengatasnamak...